📰 Berita & Warta Terkini
Informasi terbaru seputar perkembangan pariwisata, kegiatan daerah, dan warta Indragiri Hilir
🏷️ Pariwisata & Budaya
Pantai Bidari Desa Tanjung Pasir
Tradisi menongkah merupakan wujud semangat Suku Duano menghadapi alam pasang surut Indragiri Hilir. Jikala surut tempas, meninggalkan pantai seresah berlumpur yang luas, disanalah Suku Duano akan menongkah berburu kerang. Mereka berselancar di lumpur dengan menggunakan papan selancar. Dengan mendayungkan kaki dan tangan menolak lumpur agar papan bisa melesit diatas lumpur, disanalah pula kerang-kerang segar siap dikumpulkan. Melalui semangat Suku Duano, kini saban tahun (setiap bulan Juli)Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir mengadakan Festival Menongkah. Bertempat di Pantai Bidari, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah, ribuan masyarakat akan berkunjung menyaksikan festival warisan budaya ini. Sebagai pengunjung, kita pun dapat merasakan bagaimana sensasi selancar lumpur yang diperlombakan disana, sembari mengumpulkan kerang-kerang diatas pantai lumpur yang mempesona. Kita juga dapat ikuti Iven Merapah yakni berlari diatas lumpur
🏷️ Pariwisata & Budaya
Air Terjun Tembulon Ruso
Secara geografis, Air Terjun Tembulon Ruso tidak jauh terletak dari Air Terjun 86, Sama-sama terletak di Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir. Tapi, dibandingkan dengan Air Terjun 86 yang memiliki ketinggian mencapai 30,86 meter, Air Terjun Tembulon Ruso hanya memiliki ketinggian 18 meter dengan kedalam 1.5 meter. Keunikan dari Air Terjun Tembulon Ruso adalah di sisi air terjun terdapat bebatuan yang menyerupai anak tangga untuk mendaki ke atas. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, penamaan Tembulon Ruso di air terjun tersebut karena di wilayah ini selalu menjadi tempat bermain bagi hewan rusa yang dialeg masyarakat setempat menyebutnya RUSO. Selain itu masyarakat menyebutkan bahwa air terjun ini berasal dari Sungai Ngibul dan bermuara ke hilir, tepatnya Sungai Reteh. Bagi Anda pecinta olahraga arum jeram, air terjun ini merupakan tempat yang tepat. Dengan sudut kemiringannya mencapai 45 derajat, tentulah akan membuat suasana arung jeram yang cukup luar biasa yang akan anda dapatkan disana. Apalagi, debit air di kawasan Tembulon Ruso cukup besar. Daya Tarik Air Terjun Tembulon Ruso Arung Jeram Lokasi 2 kilometer sebelah Utara, Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning Aksesibilitas Pekanbaru – Tembilahan (Jalan darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Jalan laut, 4-5 jam) Tembilahan – Kemuning (Jalan darat, ±3 jam) Jambi – Kemuning (Jalan darat, ±4 jam)
🏷️ Pariwisata & Budaya
Hutan Mangrove Sungai Asam
Hutan Mangrove atau yang lebih dikenal dengan hutan bakau di Kabupaten Inhil sudah tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alami. Seperti diketahui di Indonesia terdapat lebih kurang 79 jenis Mangrove, 60 jenis diperkirakan ada di Kabupaten Indragiri Hilir, khusnya di Pulau Cawan Kecamatan Mandah. 60 persen bakau di Pulau Cawan masih terdapat pohon besar dan beberapa jenis diantaranya tidak terdapat di daerah lain. hamparan bakau dibibir pantai berlumpur ini menjadi keuntungan tersendiri bagi biota Pulau Cawan. Pasalnya, lumpur yang tebal di kawasan bakau saat terjadi pasang surut menjadi sumber bahan makanan bagi aneka jenis spesies laut seperti kerang, udang, aneka ikan langka termasuk pesut. “Disini bersarang pesut, ikan Senonggang yang beratnya mencapai enam kilogram per ekor lalu ada Pari hingga berukuran lima belas kilogram, Untuk dapat sampai di lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi sungai maupun laut, karena terletak dibagian timur Pulau Sumatera yang merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan Kota Tembilahan (Ibu kota kabupaten Indragiri Hilir). Dari Kota Tembilahan, untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh melalui jalan laut sekitar 1,5 sampai 2 jam. Sedangkan dari Kecamatan Mandah sekitar 20 sampai 40 menit.
🏷️ Pariwisata & Budaya
Menapak Tilas Perjalanan Sang Mufti
Tuan Guru Syech Abdurrahman Sidiq atau yang akrab disapa Tuan Guru Sapat merupakan seorang guru agama Islam (Mufti Kerajaan Indragiri) yang cukup tersohor dan banyak memiliki murid yang berasal dari negeri Malaysia, Singapura, Kalimantan, Jambi dan Palembang. Beliau lahir dikampung dalam pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1867 M (1284H). Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadi H. Mahmud dan ibunya bernama Shafura dan beliau merupakan keturunan Ulama besar dari Kalimantan bernama Syekh Arsyad Al-Banjari. Sebelum menetap disapat Indragiri Hilir, Tuan Guru Sapat merantau ke Padang (Sumatera Barat) untuk menemui paman beliau bernama As”ad. Ditanah minang tersebut, beliau menjalankan usaha sebagai penyepuh emas sembari berdakwah ke pelosok-pelosok Sumatera Barat berbekal ilmu agama yang telah didapatkannya di Pesantren sewaktu kecil. Sekitar tahun 1886, Tuan Guru memutuskan berangkat ke mekkah untuk lebih mendalami ilmunya. Setelah tujuh tahun menetap dinegeri padang pasir akhirnya Tuan Guru meminta izin untuk pulang ketanah air dengan alasan ingin mengabdikan ilmunya di kampung halaman dan mendapatkan persetujuan dari birokrasi pendidikan Mekkah, setelah sampai di Kalimantan, beliau memutuskan untuk migrasi ke Sumatera tepatnya ke Bangka Belitung dimana Muhammad Affif (ayah beliau) merantau panajang dinegeri itu. Sekitar tahun 1890-an Tuan Guru tiba disapat, Indragiri Hilir. Migrasinya beliau dari Bangka Belitung ke Indragiri Hilir berdasarkan informasi dari seorang saudagar asal Indragiri Hilir bernama Haji Arsyad bahwa Indragiri Hilir (Sapat) memiliki potensi dan membutuhkan seorang ulama seperti Tuan Guru. Seiring berjalannya waktu, Sultan Indragiri (sewaktu itu Sapat adalah bagian dari wilayahnya) mendapat informasi dari panco Atan (warga Indragiri yang pernah belajar dimekkah) bahwa disapat terdapat seorang ulama besar. Atas informasi tersebutlah, Sultan mengundang Tuan Guru untuk bertemu. Pada perbincangan keduanya, muncullah permintaan Sultan Indragiri agar Tuan Guru bersedia menjadi Mufti yakni seorang ahli agama yang ditugaskan oleh Sultan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam khususnya dalam hal perkawinan, mawaris, pengadilan dan perceraian. Namun awalnya, permintaan Sultan tersebut ditolak secara halus oleh Tuan Guru karena alasan masih memiliki tanggung jawab sebagai pengajar dilembaganya yang sebenarnya juga Tuan Guru tidak menyukai akan sebuah jabatan. Akhirnya dengan bujukan Sultan dan demi kepentingan agama diwilayahnya, Tuan Guru bersedia menjadi Mufti dengan syarat diantaranya beliau tetap tinggal di Sapat dan tidak mau menerima gaji dari kerajaan. Permintaan dari Tuan Guru tersebut disetujui oleh pihak istana dan pada tahun 1327 H/1910 M, Tuan Guru diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri hingga tahun 1354 H/1935 M. Tidak semata-mata hanya menjadi seorang Mufti, Tuan Guru juga sering pulang pergi menggunakan perahu kecil dari Sapat ke istana Rengat, Indragiri, untuk memberikan pengajian atas permintaan Sultan. Bahkan sebagian pejabat istana pada hari-hari tertentu juga pergi ke Sapat untuk mengikuti majelis ta’lim Tuan Guru. (dikutip dari buku Tuan Guru Sapat karya Abdul Muthalib). Acara haul Tuan Guru Sapat Syech Abdurrahman Siddiq diadakan sebagai bentuk penghormatan atas peran beliau mengembangkan ilmu pendidikan dan pengetahuan agama Islam. Dilaksanakan tiap-tiap tahun bertepatan hari wafatnya Tuan Guru Dapat. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai pelosok nusantara bahkan dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
🏷️ Pariwisata & Budaya
Pulau Basu
Natural Black Water Lakes in Basu Island Surga Burung Migran di Lingkungan Hutan Mangrove Terletak di pesisir Timur Sumatera, tepatnya di sebuah pulau yang bernama Pulau Basu, Kecamatan Kuala Indragiri / Concong, Kabupaten Indragiri Hilir, disitulah Danau Mablue berada. Danau yang terbentuk dari kubah gambut (peat dome) melalui proses alami pelapukan gambut di dalam cekungan kubah gambut selama ratusan tahun itu, membuat air Danau Mablue berwarna hitam alami (Natural Black Water Lakes). Keunikan air yang berwarna hitam itu, tidak banyak keberadaanya di dunia. Satu yang diketahui, selain di Pulau Basu danau air hitam itu ada juga di rawa Florida, Amerika Serikat, dan kini telah dijadikan suaka margasatwa. Tapi dengan keunikan ini, Danau Mablue menjadi surga bagi tempat singgah dan berkembang biak burung-burung migran seperti Kedidi Kaki Merah (Tringaps), Kuntul Kecil (Egretta Gorzetta) dan Kuntul Besar (Egretta Alba). Menurut catatan DLH Kabupaten Indragiri Hilir, 2016, kawasan hutan bakau primer disana mencapai luasan ±300 hektar dan hutan bakau sekunder ±2000 hektar. Sedangkan untuk hutan rawa gambut primer mencapai luasan ±200 hektar dan hutan rawa sekunder ±1.500 hektar. Dengan kondisi hutannya yang masih alami itu, maka tak heran di kawasan Pulau Basu berbagai Flora dan Fauna langka serta dilindungi akan dapat kita jumpai disana. Sebut saja dari tumbuh-tumbuhan seperti Bakau-bakauan (Rhizophora Mucronata, Rhizophora Apiculata; Api-api (Avicennia Alba); Nibung, Pinang Merah (Cystostachys Lakka); Terentang (Camnosperma Auriculatum); serta ribuan species belukar, dan bahkan Kantor Semar atau Periuk Beruk (Nepenthes Gracilis) yaitu tumbuhan unik si pemakan seranga. Untuk jenis satwa, khususnya jenis burung, jangan ditanya lagi. Pulau Basu merupakan surga bagi unggas-unggas langka seperti Bangau Tongtong, Ibis Kepala Hitam, Elang Bondol, dan Blekek Asia. Bahkan, Pulau ini merupakan tempat habitat alami dari species Bangau Putih Susu / Wilwo yang hanya tinggal kisaran 5.500 – 6000 ekor saja di dunia. Dan dipercaya, 10% dari jumlah itu, hidup dan berkembang biak di Pulau Basu. Bagaimana, bagi anda pecinta petualangan tentu ini merupakan suatu tantangan untuk berkunjung ke pulau dengan luas 38.500 hektar itu. Untuk mengunjunginya, dari Kota Tembilahan anda dapat sampai kesana hanya dalam waktu 1-1.5 jam saja menggunakan speedboat. Daya Tarik : Danau Mablue Aneka Flora Fauna langka Lokasi : Pulau Basu, Kecamatan Kuindra dan Kecamatan Concong Aksesibilitas : Pekanbaru – Tembilahan (Jalan Darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan Darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Speedboat, 4-5 jam) Tembilahan – Sapat (Speedboat, 10 menit)
Tutup Festival Ekowisata Solop, Bupati Wardan Bergantian Baca Puisi dari Penyair Inhil
MANDAH– Bupati Inhil HM Wardan secara resmi menutup Festival Ekowisata Solop 2017 yang ditaja oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) di Pantai Solop, Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Inhil, Minggu (17/12/2017). Kepala Disporabudpar Inhil, Junaidy Ismail dalam laporan kegiatannya menuturkan, setelah digelar lebih kurang seminggu sejak 12 Desember 2017, berbagai kegiatan perlombaan telah dilaksanakan, antara lain lomba pacu sampan di dalam kanal sekitar area Sungai Keceng, Desa Pulau Cawan yang mana pesertanya berasal dari masyarakat desa setempat dan telah menyelesaikan babak finalnya pada Jum’at (15/12/2017). Bahkan untuk lomba lagu melayu Sersah Pantai Solop, penyisihan atau audisi telah telah di mulai sejak 1 Oktober 2017 di Tembilahan dan menyisakan 10 peserta terbaik yang bertarung di pentas final sebelum acara penutupan Festival Ekowisata Solop. Namun yang paling menarik dan berbeda dari pelaksanaan Festival ini adalah, peluncuran buku Antologi Puisi 7 Penyair Dari Indragiri Hilir “Sayap Waktu Mutiara Hikmah” yang juga turut tampil membacakan puisi mereka didukung oleh penampilan sanggar theater bengkel kreasi Tembilahan dan Majelis Melayu Pekanbaru. “Mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka festival ekowisata solop eko, pada kesmelatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih. Alhamdulillah bagi para penyair sangat memberikan kesan kepada penyair,” tutur Junaidi yang mengakhiri laporannya dengan membacaka sebuah puisi. Bupati Inhil HM Wardan yang hadir didampingi Ketua TP PKK Inhil Hj. Zulaikhah Wardan, atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil menyanbut baik dan menyampaikan penghargaan yang setinggi – tingginya atas kegiatan yang telah dipersiapkan jauh – jauh hari ini. “Berdasarkan penjelasan pak Kadispora, bahwa kegiatan yang dilaksanakan ini sudah dirancang, malah kegiatan lagu melayu jauh sebelumnya dipersiapkan,” ujar Bupati Inhil dalam sambutannya. Mengenai perlombaan yang digelar oleh Panitia, Bupati Inhil memberikan masukannya untuk mengembangkan berbagai kegiatan untuk lebih menarik minat masyarakat dalam dan luar Inhil dapat datang ke Pantai Solop. Seperti halnya perlombaan sampan kanal yang menurut Bupati perlu untuk dikembangkan dengan memperluas, memperdalam lagi Sungai Keceng yang menjadi arena lomba. “Kita panjangkan lagi (sungai keceng) agar juga bisa mengitari hutan mangrove, sehingga menambah daya tarik wisata pantai solop. Pengunjung, turis dapat menikmati mengayuh sampan mengitari mangrove, ini menjadi daya tarik sendiri untuk kita kembangkan kedepannya,” tukas Bupati. Melihat potensi dan banyaknya segi positif dari penyelenggaraan festival ekowisata solop, Bupati Inhil menganjurkan Disporabudpar untuk terus melanjutkan iven dengan diisi kegiatan yang lebih menarik dan kemasan yang lebih baik lagi. “Dianjurkan diteruskan, festival ini diprogramkan lagi akan datang dan lebih terprogramkan lagi, mungkin tahun ini penyair Riau asal Inhil, tahun depan penyair mancanegara,” imbuhnya. Lebih lanjut Bupati menuturkan, melalui iven seperti ini dapat memunculkan potensi dan karya yang sudah dihasilkan oleh anak – anak Inhil, namun masih belum terpromosikan. “Sudah banyak pencipta lagu terbaik putra putri terbaik kita tentang pantai solop. Saya melihat generasi muda kita yang ada di Inhil ini sangat berpotensi sekali, baik itu sebagai penyair maupun pencipta lagu. Saya pikir sudah banyak karya yang sudah diciptakan oleh anak inhil ini, hanya saja promosinya kurang, oleh kare itu melaui acara ini dapat kita tampilkan,” ujar Bupati. Sementara itu, Herman Rante seorang penyair yang didaulat sebagai perwakilan 7 penyair asal Inhil yang memang diundang khusus menyampaikan rasa terimakasih dan bahagianya bisa diundang dan datang ke Pantai Solop, karena memang tidak semua pernah datang ke Desa Pulau Cawan tersebut. “Saya selaku perwakilan 7 penyair , 4 orang bermukim di Pekanbaru dan 3 di Inhil tak ada bedanya, kami merasa terimakasih yang amat mendalam telah mengundang kami. karena ada beberapa yang belum sampai ke solop dan tadinya hanya mendengar lagu saja, sekarang sudah melihat secara nyata inilah pantai solop yang begitu indah tiada tandingannya menurut kita,” ujar Herman dalam sambutannya. - TRIBUNTEMBILAHAN.COM
Video Field Trip ” World Coconut Day 2017 ” at Indragiri Hilir – Riau
https://youtu.be/BTp6OeJECEw
Video Museum Rekor Indonesia ” Minum Air Kelapa Muda Serentak 10.000 “
Puncak Acara Gema Muharram, Pemkab Inhil Kembali Raih Rekor Muri, Ini Kategorinya
TEMBILAHAN –Niat Bupati Inhil HM Wardan untuk kembali memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) pada pagelaran Gema Muharram tahun ini akhirnya terwujud. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil kembali berhasil meraih rekor Muri untuk kategori Tabak Bunga Telur Terbanyak pada peringatan Muharram 1439 Hijriyah dalam semarak Gema Muharram memperingati tahun baru Islam 1439 Hijriyah (H) bersama ribuan ummat muslim di lapangan Gajah Mada, Tembilahan, Sabtu (30/9/2017) sore. Pada pergelaran Gema Muharram sebelumnya, Pemkab Inhil juga berhasil memecahkan Rekor Shalawat Nariyah terbanyak. Bahkan yang lebih membanggakan, torehan prestasi dalam serangkaian acara puncak even wisata religi Gema Muharram 1439 Hijriyah tersebut, dikukuhkan sebagai rekor dunia oleh tim verifikasi Museum Rekor Dunia Indonesia. Berdasarkan hasil verifikasi faktual yang dilakukan oleh Tim Verifikasi MURI, tercatat lebih dari 1500 tabak bunga telur yang tersaji di lapangan Gajah Mada, Tembilahan. Dengan begitu, ini merupakan catatan kesekian kalinya, Kabupaten Inhil kembali berhasil memperoleh penghargaan prestisius, tidak hanya dalam ruang lingkup nasional, melainkan penghargaan berskala dunia. “Tahun lalu, kita juga berhasil mendapatkan rekor MURI untuk shalawat nariyah dan barzanji seribu berkah. Tahun ini, Alhamdulillah, kita kembali sukses meraih rekor MURI, bahkan skala dunia dalam kategori Tabak Bunga Telur Terbanyak,” ujar Bupati Wardan bangga. - TRIBUNPEKANBARU.COM