Sabtu, 8 Agustus Agustus 2026 00:00:00 WIB
Admin
Agenda Budaya & Kebudayaan

📅 Agenda Festival & Event Daerah

Pantau seluruh jadwal event kebudayaan, pagelaran seni, festival pariwisata, dan agenda kepemudaan di Kabupaten Indragiri Hilir.

Jelajah Ekowisata Solop 🏷️ Event Pariwisata
07 Aug 2018 Sesuai Jadwal

Jelajah Ekowisata Solop

Indragiri Hilir

Event Jelajah Ekowisata Solop (JES) 2017 yang ditaja oleh Dinas Pemuda Olahraga Budaya Pariwisata (Disporabudpar) dan Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kabupaten Indragiri hilir. Kegiatan Jelajah Ekowisata Solop yang diikuti ratusan peserta ini disejalankan dengan pencanangan Car Free Day serta Senam Bersama dan Jalan Jantung Sehat di Jalan Swarna Bumi Tembilahan.Kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan dengan harapan dapat memperkenalkan Ekowisata Pantai Solop kepada dunia luar. Kurang lebih 52 kilometer jarak yang akan ditempuh oleh para pesepeda dengan melintasi empat Kecamatan, yaitu Kecamatan Tembilahan (Kelurahan Tembilahan Kota, Tembilahan Hilir), Kecamatan Batang Tuaka (Desa Sei Luar, Desa Sei Dusun, Kelurahan Sungai Piring, Desa Gemilang), Kecamatan Gaung Anak Serka (Desa Teluk Pantai, Kelurahan Teluk Pinang, Desa Kuala Gaung), Kecamataan Mandah (Desa Pulau Cawan).

Lihat Detail Agenda
Karnaval Budaya 🏷️ Event Pariwisata
24 Jul 2018 Sesuai Jadwal

Karnaval Budaya

Indragiri Hilir

Nama Event : Inhil Culture Festival Tanggal Event : September Tempat Acara : Kota Tembilahan Deskripsi Iven : Ingin Menanamkan kepada generasi muda kecintaan tentang kesenian daerah setiap suku dan etnis yang ada di Indragiri Hilir karena setiap suku memiliki keunikan masing-masing untuk tetap dilestarikan sebagai kostum yang memiliki ciri khas tersendiri.

Lihat Detail Agenda
Haul Syech Abdurrahman Shiddiq 🏷️ Event Pariwisata
23 Jul 2018 Sesuai Jadwal

Haul Syech Abdurrahman Shiddiq

Indragiri Hilir

Tuan Guru Syech Abdurrahman Sidiq atau yang akrab disapa Tuan Guru Sapat merupakan seorang guru agama Islam (Mufti Kerajaan Indragiri) yang cukup tersohor dan banyak memiliki murid yang berasal dari negeri Malaysia, Singapura, Kalimantan, Jambi dan Palembang. Beliau lahir dikampung dalam pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1867 M (1284H). Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadi H. Mahmud dan ibunya bernama Shafura dan beliau merupakan keturunan Ulama besar dari Kalimantan bernama Syekh Arsyad Al-Banjari. Sebelum menetap disapat Indragiri Hilir, Tuan Guru Sapat merantau ke Padang (Sumatera Barat) untuk menemui paman beliau bernama As”ad. Ditanah minang tersebut, beliau menjalankan usaha sebagai penyepuh emas sembari berdakwah ke pelosok-pelosok Sumatera Barat berbekal ilmu agama yang telah didapatkannya di Pesantren sewaktu kecil. Sekitar tahun 1886, Tuan Guru memutuskan berangkat ke mekkah untuk lebih mendalami ilmunya. Setelah tujuh tahun menetap dinegeri padang pasir akhirnya Tuan Guru meminta izin untuk pulang ketanah air dengan alasan ingin mengabdikan ilmunya di kampung halaman dan mendapatkan persetujuan dari birokrasi pendidikan Mekkah, setelah sampai di Kalimantan, beliau memutuskan untuk migrasi ke Sumatera tepatnya ke Bangka Belitung dimana Muhammad Affif (ayah beliau) merantau panajang dinegeri itu. Sekitar tahun 1890-an Tuan Guru tiba disapat, Indragiri Hilir. Migrasinya beliau dari Bangka Belitung ke Indragiri Hilir berdasarkan informasi dari seorang saudagar asal Indragiri Hilir bernama Haji Arsyad bahwa Indragiri Hilir (Sapat) memiliki potensi dan membutuhkan seorang ulama seperti Tuan Guru. Seiring berjalannya waktu, Sultan Indragiri (sewaktu itu Sapat adalah bagian dari wilayahnya) mendapat informasi dari panco Atan (warga Indragiri yang pernah belajar dimekkah) bahwa disapat terdapat seorang ulama besar. Atas informasi tersebutlah, Sultan mengundang Tuan Guru untuk bertemu. Pada perbincangan keduanya, muncullah permintaan Sultan Indragiri agar Tuan Guru bersedia menjadi Mufti yakni seorang ahli agama yang ditugaskan oleh Sultan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam khususnya dalam hal perkawinan, mawaris, pengadilan dan perceraian. Namun awalnya, permintaan Sultan tersebut ditolak secara halus oleh Tuan Guru karena alasan masih memiliki tanggung jawab sebagai pengajar dilembaganya yang sebenarnya juga Tuan Guru tidak menyukai akan sebuah jabatan. Akhirnya dengan bujukan Sultan dan demi kepentingan agama diwilayahnya, Tuan Guru bersedia menjadi Mufti dengan syarat diantaranya beliau tetap tinggal di Sapat dan tidak mau menerima gaji dari kerajaan. Permintaan dari Tuan Guru tersebut disetujui oleh pihak istana dan pada tahun 1327 H/1910 M, Tuan Guru diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri hingga tahun 1354 H/1935 M. Tidak semata-mata hanya menjadi seorang Mufti, Tuan Guru juga sering pulang pergi menggunakan perahu kecil dari Sapat ke istana Rengat, Indragiri, untuk memberikan pengajian atas permintaan Sultan. Bahkan sebagian pejabat istana pada hari-hari tertentu juga pergi ke Sapat untuk mengikuti majelis ta’lim Tuan Guru. (dikutip dari buku Tuan Guru Sapat karya Abdul Muthalib). Acara haul Tuan Guru Sapat Syech Abdurrahman Siddiq diadakan sebagai bentuk penghormatan atas peran beliau mengembangkan ilmu pendidikan dan pengetahuan agama Islam. Dilaksanakan tiap-tiap tahun bertepatan hari wafatnya Tuan Guru Dapat. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai pelosok nusantara bahkan dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Daya Tarik : Makam Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiq Sejarah Singkat : Tuan Guru Syekh Abdurrahman Siddiqmerupakan seorang yang mempunyai jasa besar dalam kemajuan ilmu agama Islam. Selain pejuang dalam pendidikan Islam, beliau juga merupakan pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Lokasi : Dusun Hidayat, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Kuala Indragiri Aksesibilitas : Pekanbaru – Tembilahan (Jalan darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Jalan laut, 4-5 jam) Tembilahan – Sapat (Speedboat, ±10 menit)

Lihat Detail Agenda
Festival Sampan Slodang 🏷️ Event Pariwisata
23 Jul 2018 Sesuai Jadwal

Festival Sampan Slodang

Indragiri Hilir

Lihat Detail Agenda
Festival Gema Muharram 🏷️ Event Pariwisata
30 Jun 2018 Sesuai Jadwal

Festival Gema Muharram

Indragiri Hilir

Lazimnya di kawasan-kawasan Melayu Riau, mayoritas penduduk Kabupaten Indragiri Hilir pemeluk agama Islam. Maka tak heran, kebudayaan Islam yang sangat kental disana. Seperti salah satunya pada penyambutan Tahun Baru Hijriah yang sejak dahulu kala sudah dilakukan masyarakat seantero Inhil hingga ke ceruk-ceruk kampungnya. Berbeda dari tempat lain yang juga mengadakan acara untuk penyambutan Tahun Baru Islam ini dan biasanya diisi dengan acara do’a bersama dan tausyiah saja, di Indragiri Hilir, tepatnya di ibukotanya Tembilahan, acara dibuat sangat meriah. Masyarakat akan tumpah ruah meramaikan acara yang diadakan 10 hari ini, khususnya dihari ke 10 yaitu hari puncak dalam helat yang kini diberi nama Gema Muharram. Sejak Pemkab Inhil menatanya rapi, khususnya sejak Inhil dipimpin Bupati H. Muhammad Wardan, 2104 lalu, kegiatan yang diangkat dari budaya masyarakat lokal ini kemeriahannya memang terasa berbeda. Ribuan masyarakat se-Indragiri Hilir akan berbondong ke lapangan Gajah Mada, Tembilahan, lokasi pelaksanaan kegiatan. Semakin meriah acara ini pada hari puncak acara itu di 10 Muharram. Bahkan sejak tahun itu pula, kegiatan ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Rekor tersebut adalah untuk kategori “Bubur Assyura Terbanyak” pada tahun 2014, “Penampilah Shalawat Nariyah Terbanyak” pada tahun 2015, dan “Penampilan Penabuh Berdah Terbanyak” pada tahun 2016, serta “Tabak Bunga Telur Terbanyak” pada tahun 2017. Event yang kini telah menjadi agenda tahunan tersebut, setiap tahunnya akan diselenggarakan pada tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram. Pada masa itu, masyarakat memeriahkan tahun baru Hijriah dengan melaksanakan kegiatan yang diharapkan mampu menumbuhkan rasa syukur dan kualitas keagamaan. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi, do’a bersama pergantian tahun, berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, tabligh akbar, tausiah, pawai ta’aruf, dan bermacam perlombaan keagamaan seperti lomba shalawat nariyah, lomba pembacaan syair ibarat, hingga lomba pembacaan puisi religi, dan pertunjukan teater religi. Salah satu hal yang menarik dalam Event ini adalah memasak Bubur Assyura. Bubur yang pada sejarah zaman Nabi Muhammad SAW dimasak masa-masa perang, turut dilakukan oleh masyarakat Indargiri Hilir. Bubur Assyura merupakan bubur yang pada pengolahannya mencampurkan beberapa bahan makanan. Sehingga memiliki rasa khas jika dinikmati. Tradisi memasak Bubur Assyura ini sudah lahir dari zaman dahulu di kalangan masyarakat Indragiri Hilir. Namun, dibawah Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, kegitan tersebut menjadi event masak bersama dalam rangka menumbuhkan nilai hidup bergotong royong dan kekeluargaan.   Daya Tarik Festival Gemu Muharram di hari ke sepuluh (puncak) yang biasanya akan dihadiri puluhan ribu orang. Pertunjukan-pertunjukan Religi setiap malam selama 10 hari penuh Lokasi : Kota Tembilahan Rangkaian Kegiatan : Tanggal 1 Muharram Pawai Doa pergantian Tahun Baru Hijriah Ceramah Agama  Tanggal 2 - 9 Muharram Lomba dan Pertunjukan Seni Islam Bazaar Tanggal 10 Muharram Perayaan Puncak Berbuka Puasa Bersama dengan Bubur Asyura Aksesibilitas Pekanbaru – Tembilahan (Jalan darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Jalan laut, 4-5 jam)

Lihat Detail Agenda
Festival Sampan Leper 🏷️ Event Pariwisata
30 Jun 2018 Sesuai Jadwal

Festival Sampan Leper

Indragiri Hilir

Pada umumnya, sampan merupakan alat transportasi yang digunakan di air. Namun apa jadinya jika sampan digunakan diatas lumpur. Nah, inilah mahakarya masyarakat Indragiri Hilir khususnya Kuala Getek, Kecamatan Tembilahan. Sebagai masyarakat yang hidup dikawasan 'Seribu Parit' dengan kondisi alam yang pasang surut, tidak mematahkan semangat masyarakat untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari. Sampan Leper adalah sampan berukuran 1x3 meter yang didesain khusus untuk bisa dikayuh diatas lumpur.Jika secara umum kita memahami bentuk sampan kerucut dibagian bawahnya, namun tidak dengan Sampan Leper. Sampan Leper dibentuk pipih (leper) dibagian bawahnya. Tujuannya adalah saat melintasi lumpur yang padat, bagian bawah tersebut dapat berseluncur dengan mulusnya. Sampan Leper kini menjadi salah satu objek daya tarik wisata di Kabupaten Indragiri Hilir. Dapat pula dikatakan sebagai iven langka di dunia. Setiap musim surut tiba, diadakan iven berbentuk lomba yang menampilkan kebolehan masyarakat dalam mengayuh sampan diatas lumpur.Kegiatan ini biasanya dilaksanakan sekitar bulan Juli saban tahunnya. Sebab pada masa itulah, air disekitar Kuala Getek, Sungai Batang Tuaka, surut dan hanya menyisakan lelumpuran yang padat. Mahakarya Sampan Leper merupakan wujud semangat masyarakat sepanjang Sungai Batang Tuaka, khususnya Suangai Luar, dibalik Legenda si Anak Durhaka. Cerita kejayaan Suangai Luar yang pernah menjadi bandar niaga besar dan ramai, namun tak membuat surut langkah masyarakatnya kala bandar mulai ditinggal akibat pendangkalan yang membuat sungai kini penuh lumpur.Disanalah tercipta mahakarya Sampan Leper, moda transportasi yang mampu membelah lumpur, siap menghantarkan apa saja yang menjadi penumpangnya, khususnya hadil-hasil pertanian yang kini melimpah sebab tanah telah subur dibalik pendangkalan Sungai Batang Tuaka. Jika anda tak dapat masa berkunjung saat iven digelar, jangan takut. Sehari-hari hinga kini, sampan leper masih banyak digunakan masyarakat khususnya didaerah Pekan Arba. Disanalah awalnya Festival digelar, sebelum kini bergeser didaerah Kuala Getek, mengingat mudahnya penonton untuk melihat dari tepian Jembatan Tasik Gemilang yang membelah Sungai Batang Tuaka. Kelucuan peserta yang bersusah payah mengayuh dan terkadang terjatuh di lumpur menjadi tontonan yang cukup menghibur bagi masyarakat yang datang, bahkan dari mancanegara. Objek Daya Tarik Wisata : Pacu Sampan Leper Pacu Sampan Pengasuh Kelapa Sejarah Singkat : Sampan Leper adalah sampan yang didisain untuk bisa dikayuh diatas lumpur. Juga sebuah mahakarya masyarakat Indragiri Hilir di dalam menghadapi fenomena alam yang telah lumrah terjadi di rawa-rawa, yakni terjadinya pasang surut air sungai. Lokasi : Kuala Getek, Tembilahan Aksesibilitas : Pekanbaru – Tembilahan (Jalan darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Jalan laut, 4-5 jam) Tembilahan – Getek (Jalan darat, ±20 menit)

Lihat Detail Agenda
Festival Menongkah 🏷️ Event Pariwisata
30 Jun 2018 Sesuai Jadwal

Festival Menongkah

Indragiri Hilir

Diantara ragam ras berbagai suku yang mendiami Kabupaten Indragiri Hilir, terdapatlah pula kelompok Suku Duano. Dari catatan sejarah, Suku Duano merupakan suku Anak Laut yang termasuk ras Proto Malay (golongan Melayu Tua) di Riau. Suku ini sudah ada sejak tahun 2500 SM sampai dengan 1500 SM. Mereka berdiam di pinggir pantai atau teluk-teluk di pesisir Timur Indragiri Hilir. Suku ini termasuk suku nomaden, artinya mereka suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pulau ke pulau lain atau dari satu ceruk ke ceruk lain. Sebagai ‘orang laut’, yang terkenal akan kegigihannya, masyarakat Suku Duano tidak patah semangat untuk hidup di Indragiri Hilir yang terkenal akan alamnya yang keras. Salah satunya terlihat dari budaya tradisi menongkah yang menjadi warisan budaya Suku Duano. Tradisi menongkah yang menjadi warisan budaya suku duano. Tradisi ini terbilang unik dan langka di dunia. Menongkah merupakan aktifitas menangkap kerang (Anadar Granosa) di hamparan padang lumpur dengan menggunakan sebilah papan seperti papan tersebut terbuat dari pohon besar yang sudah tua. Sekilas aktifitas menongkah ini mirip dengan peselancar, hanya saja objek dan teknik yang digunakan jauh berbeda dengan selancar. Tradisi menongkah merupakan wujud semangat Suku Duano menghadapi alam pasang surut Indragiri Hilir. Jikala surut tempas, meninggalkan pantai seresah berlumpur yang luas, disanalah Suku Duano akan menongkah berburu kerang. Mereka berselancar di lumpur dengan menggunakan papan selancar. Dengan mendayungkan kaki dan tangan menolak lumpur agar papan bisa melesit di atas lumpur, disanalah pula kerang-kerang segar siap dikumpulkan. Melalui semangat Suku Duano, kini saban tahun (setiap Juli) Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir mengadakan Festival Menongkah. Bertempat di Pantai Bidari, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah, ribuan masyarakat akan berkunjung menyaksikan festival warisan budaya ini. Sebagai pengunjung, kita pun dapat merasakan bagaimana sensasi selancar lumpur yang diperlombakan disana, sembari mengumpulkan kerang-kerang di atas pantai lumpur yang mempesona. Kita juga dapat ikuti iven merapah yakni berlari diatas lumpur. Objek Daya Tarik Wisata : Pantai Seresah Bidari Menongkah Kerang Merapah (Berlari diatas lumpur)  Lokasi : Tanjung Pasir Bekawan Concong Luar Pulau Basu Kecamatan : Tanah Merah dan Concong Rangkaian Festival : Menongkah dengan cara menangkap kerang (Anadar Granosa) dihamparan padang lumpur dengan menggunakan sebilah papan seperti papan seluncur, berjalan di lumpur/menapak. Lomba Menongkah kerang terbanyak dalam waktu tertentu. Aksesibilitas : Pekanbaru – Tembilahan (Jalan darat, 6-7 jam) Jambi – Tembilahan (Jalan darat, 5-6 jam) Batam – Tembilahan (Jalan laut, 4-5 jam) Tembilahan - Tanah Merah (Speedboat, ±45 menit)

Lihat Detail Agenda
Festival Sungai Indragiri 🏷️ Event Pariwisata
30 Jun 2018 Sesuai Jadwal

Festival Sungai Indragiri

Indragiri Hilir

Ketika mendengar kata Pompong masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) tidak asing lagi dengan nama itu. Dimana Pompong digunakan oleh masyarakat Indragiri Hilir untuk transportasi mereka, sebab sebagian masyarakat setempat bertempat tinggal disisi perairan Indragiri hilir. Pompong (Kendaraan laut) dengan alat tenaga penggerak menggunakan mesin diesel ini merupakan ikon masyarakat Indragiri Hilir yang digunakan oleh masyarakat pesisir berpergian melalui perairan sungai Indragiri menuju Ibu Kota Tembilahan. untuk mengangkat budaya lokal masyarakat Indragiri Hilir, masyarakat Desa Sungai Intan menggelar Iven Festival Sungai Indragiri ketiga dengan budaya lokal berupa Pompong Hias dalam rangka memperingati Gema Muharam 1438 H. “Dengan digelarnya festival ini, Pemerintah Kabupaten Inhil sangat mengapresiasi dimana kegiatan ini sebagai ajang hiburan masyarakat sekaligus menggemakan tahun baru Islam. Semoga kedepan kegiatan tradisional ini menjadi iven kegiatan tahunan. Sebab Pompong adalah simbol kearifan masyarakat Inhil, “Untuk itu saya berharap kepada instansi terkait agar mensufot dan mendukung terus budaya tradisional. Dan kepada masyarakat, saya menyampaikan ucapan terimakasi sehingga kegiatan ini terlaksana dengan baik. Dengan kegiatan ini sekaligus merayakan tahun baru islam, semoga kita memaknai pergantian tahun islam, menjadi pribadi yang baik Nama Event : Festival Sungai Indragiri Tanggal Event : 21 September Tempat Acara : Desa Sungai Intan Kecamatan Tembilahan Hulu Deskripsi Iven : Festival Sungai Indragiri diadakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1439 Hijriah yang diselingi lomba pompong hias yang mana kita ketahui bahwa masyarakat Indragiri Hilir dalam menggunakan transportasi sebagai kendaraan bermotor melintasi sungai-sungai yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir.

Lihat Detail Agenda
Pemilihan Bujang dan Dara 🏷️ Event Pariwisata
30 Jun 2018 Sesuai Jadwal

Pemilihan Bujang dan Dara

Indragiri Hilir

Nama Event : Bujang Dara Tanggal Event : 9-10 Agustus Tempat Acara : Kota Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Deskripsi Iven : Ajang Bujang Dara ini diadakan untuk melestarikan nilai-nilai Budaya yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Selain itu juga memberdayakan kemampuan  mental bujang dara Inhil untuk dilatih di uji pengetahuannya baik pengetahuan Budaya maupun Kepariwisataan daerah khususnya di Indragiri Hilir.

Lihat Detail Agenda

Hotline Pariwisata Inhil

Online | Siap Membantu

Pusat Informasi & Layanan Wisata

Chat Whatsapp Sekarang